FORMULA:
6 RUKUN IMAN 5 RUKUN ISLAM
dilakukan istiqomah Niat hanya Mencari Ridho Gusti Allah
dan Ridho terhadap takdirnya
Sholat 5 waktu berjamaah
Kumpul sama orang alim dan soleh
1. Takdzim dan Berbakti kepada Orang Tua
2. Takdzim dan Berbakti kepada Guru Kita
Nawaitu Ngala kuli Halin Ibadati artinya niat ingsun sakpolah tingkah ibadah teng Gusti Allah .Pak Yai Ismun Zubair Jongbiru
AMALAN TIAP HARI
SHOLAT 5 WAKTU BERJAMAAH
SAYYIDUL ISTGHFAR SETIAP SELESAI SHOLAT 5 WAKTU
MEMBACA AL QUR'AN PAGI
SETIAP HEMBUSAN NAFAS DZIKIR ALLAH SHOLAWAT
AUROD DZIKRUL GHOFILLIN AL FATIHAH MIN 100X/ HARI
ISTIGHFAR 1000 X.
SHOLAWAT 1000 X
AL IKHLAS 100 X
HAMDALLAH 100X
AMALAN SEUMUR HIDUP MINIMAL 1X
SHOLAT TASBIH
AL IKHLAS 100.000 X

Dawuh-Dawuh Gus Miek (Pesan Gus Miek)
Menjaga,belajar,mengamalkan Al-qur'an
Dhawuh 1
Saya adalah mursyid tunggal Dzikrul Ghofilin.
“Lho,
Gus kok berkata begitu bagaimana dengan farid dan syauki..?” tanya Gus
Ali sidoarjo.”mereka hanya meramaikan saja” , jawab Gus Miek
Dhawuh 2
Demi
Allah, saya hanya bisa menangis kepada Allah, semoga sami’in yang
setia, pengamal Dzikrul Ghofilin, semua maslah-masalahnya tuntas
diperhatikan oleh Allah.
Dhawuh 3
Bila mengikuti Dzikrul Ghofilin, kalau tidak tahu artinya yang penting hatinya yakin.
Dhawuh 4
Barusan ada orang bertanya: Gus, Dzikrul Ghofilin itu apa..? saya jawab: “Jamu”.
Dhawuh 5
Dzikrul Ghofilin itu senjata pamungkas, khususnya menghadapi tahun 2000 ke atas
Dhawuh 6
Ulama
sesepuh yang dikirimi fatihah oleh orang-orang yang tertera atau
tercantum dalam Dzikrul Ghofilin itu yang akan saya dan kalian ikuti di
akhirat nanti.
Dhawuh 7
Dekatlan kepada Allah..! kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang yang dekat denganNya.
Dhawuh 8
Kemanunggalan
sema’an Al Qur’an dan Dzikrul Ghofilin adalah sesuatu yang harus di
wujudkan oleh pendherek, pimpinan Dzikrul Ghofilin, dan jama’ah sema’an
Al Qur’an. Sebab antara sema’an Al Qur’an kaliyan Dzikrul Ghofilin
ingkang sampun dipun simboli kaliyan fatihah miata marroh ba’da kulli
shalatin, meniko berkaitan manunggal.
Dhawuh 9
Semoga Dzikrul
Ghofilin ini menjadi ketahanan batiniah kita, sekaligus penyangga kita
di hari Hisab (hari perhitungan amal). Itulah yang paling penting..!
Dhawuh 10
Nuzulul
Qur’an yang bersamaan dengan turunnya hujan ini, semoga menjadi isyarat
turunnya petunjuk kepada saya dan kalian semua, seperti firman Allah:
“Ulaika ‘ala hudan min rabbihim wa ulaika hum al-muflihun” (Mereka
telah berada di jalan petunjuk , dan mereka adalah orang-orang yang
beruntung).
Dhawuh 11
Barusan ada orang yang bertanya: Gus,
bagaimana saya ini, saya tidak bisa membaca Al Qur’an..? saya jawab:
“Paham atau tidak, yang penting sampean datang ke acara sema’an, karena
mendengarkan saja besar pahalanya”.
Dhawuh 12
Sejak sekarang,
yang kecil harus berpikir: kelak kalau besar, aku besar seperti apa,
yang besar harus berpikir, kalau tua kelak, aku tua seperti apa, yang
tua juga harus berpikir, kelak kalau mati, aku mati dalam keadaan
seperti apa.
Dhawuh 13
Dalam sema’an ada seorang pembaca Al
Qur’an, huffazhul Qur’an dan sami’in. Seperti ditegaskan oleh sebuah
hadits: Baik pembaca maupun pendengar setia Al Qur’an pahalanya sama.
Malah di dalam ulasan tokoh lain dikatakan: pendengar itu pahalanya
lebih besar daripada pembacanya. Sebab pendengar lebih main hati,
pikiran, dan telinganya. Pendengar dituntut untuk lebih menata hati dan
pikirannya dan lebih memfokuskan pendekatan diri kepada Allah.
Dhawuh 14
Satu-satunya
tempat yang baik untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah adalah majelis
sema’an Al Qur’an. Hal ini tertera di dalam (kalau tidak salah) tiga
hadits. Antara lain Man arada an yatakallam ma’a Allah falyaqra’ Al
Qur’an (siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, hendaknya ia membaca Al
Qur’an).
Dhawuh 15
Seorang yang ikut sema’an berturut-turut 20 kali saya jamin apa pun masalah yang sedang dihadapinya pasti akan beres/tuntas.
Dhawuh16
Ada
seorang datang kepada saya: “Gus, problem saya bertumpuk-tumpuk, saya
sudah mengikuti sema’an 19 kali, tinggal 1 kali lagi, kira-kira masalah
saya nanti tuntas atau tidak..?” saya jawab: “yang sial itu saya, kok
bertemu dengan orang yang mempunyai masalah seperti itu.”
Dhawuh 17
Saya
sendiri sebagai pencetus sema’an Al Qur’an ternyata kurang konsekuen,
sementara sami’in datang dari jauh, bahkan hadir sejak subuh, mulai
surat Al fatihah dibaca sampai berakhir setelah doa khotmil Qur’an malam
berikutnya baru mereka pulang. Sedang saya ini, baru datang kalau
sema’an Al Qur’an akan diakhiri. Itu pun tidak pasti. Terkadang saya
berpikir, saya ini seorang yang dipaksakan untuk siap dipanggil kiai.
Dhawuh 18
Berapa
yang hadir setiap sema’an? Jangan lebih lima persen. Nanti bila
sami’innya terlalu banyak, saya hanya menangis dan membaca Al Fatihah,
lalu pulang. Saya sadar, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Jangankan
untuk orang banyak, untuk satu orang saja saya tidak bisa.
Dhawuh 19
Kalau
saya nongol, mungkin tak cukup semalaman. Satu persatu harus dilayani.
Saya besok ke mana? Apa yang harus saya lakukan? Kami tidak punya modal?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, Dan, saya dituntut untuk
memberikan keterangan yang bisa mereka terima, setidaknya agak
menghibur, dengan lelucon atau dengan pengarahan yang pas.
Dhawuh 20
Semoga sema’an dan Dzikrul Ghofilin ini kelak menjadi tempat duduk-duduk dan hiburan anak cucu kita semua.
Dhawuh 21
Alhamdulillah,
saya adalah yang pertama memberitahukan kepada “anak-anak” tentang
makna dan kegunaan sema’an Al Qur’an. Di tengah maraknya Al Qur’an
diseminarkan dan didiskusikan, Alhamdulillah masih ada kelompok kecil
yang menyakini bahwa Al Qur’an itu mengandung berkah.
Dhawuh 22
Saya
mengambil langkah silang dengan mengatakan kepada anak-anak yang
berkumpu agar sebulan sekali mengadakan pertemuan, ngobrol-ngobrol,
guyon-guyon santai, syukur bisa menghibur diri dengan hiburan yang
berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya
menemukan satu pakem bahwa pertemuan yang dibarengi dengan alunan Al
Qur’an, membaca dan mendengarkannya, syukur-syukur dari awal sampai
akhir, Allah akan memberikan rahmat dan nikmatNya. Jadi, secara
batiniah, sema’an Al Qur’an ini menurut saya adalah hiburan yang
bersifat hasnah (bernilai baik). Juga, pendekat diri kita kepada Allah
dan tabungan di hari akhir. Itu pula yang benar-benar diyakini para
pengikut sema’an Al Qur’an.
Dhawuh 23
Di bukit ini terdapat 3
tiang kokoh (panutan), yaitu (1) Syaikh Abdul Qodir Khoiri, seorang
wali yang penuh kasih, (2) Abdul Sholih As-Saliki, seorang wali yang
terus menjaga wudhunya demi menempuh jalan berkah, (3) Muhammad Herman,
ia adalah wali penutup, orang-orang terbaik berbaur dengannya. Wahai
tuhanku, berilah manfaat dan berkah mereka. Kumpulkan aku bersama
mereka.
Dhawuh 24
Mengenai tata krama ziarah kubur,
selayaknya lahir batin ditata dengan baik. Saya juga berpesan, kalau
seseorang berceramah, hendaknya ia tidak meneliti siapa yang dimakamkan,
juga riwayat hidupnya. Setidaknya hal demikian ini hukumnya makruh.
Dhawuh 25
Tiga
orang yang tidur ini hidup sebelum Wali songo. Orang-orang banyak
datang kesini. Demikian juga orang-orang yang sakit, mereka kalau datang
ke sini sembuh.
Dhawuh 26
Kelak, bila aku sudah tiada, yang saya tempati ini (makam tambak) bertambah ramai (makmur)
Dhawuh 27
Saya
disini hanya ittiba’(mengikuti) kiai sepuh, seperti kiai Fattah dan
kiai Mundzir. Di sini, dulu pernah dibuat pertemuan kiai-kiai pondok
besar.
Dhawuh 28
Makam ini yang menemukan keturunan Pangeran
Diponegaoro. Dulu, desa ini pernah dibuat istirahat oleh pangeran
Diponegoro. Di desa ini tidak ada shalat dan tidak ada apapun. Keturunan
Diponegoro ini ada dua, yang satu menjadi dukun sunat tetapi kalau
berdandan nyentrik, sedang adiknya jadi pemimpin seni jaranan.
Dhawuh 29
Berbaik sangka itu sulit. Jangankan berbaik sangka kepada Allah, kepada para wali dan para kiai sepuh saja sulit.
Dhawuh 30
Di
tambak itu, kalau bisa bersabar, akan terasa seperti lautan, dan kalau
bisa memanfaatkan, akan banyak sekali manfaatnya. Tapi kalau tidak bisa
memanfaatkan, ia akan bisa menenggelamkan.
Dhawuh 31
Huruf
hijaiyah itu ada banyak ada ba’, jim, dhot, sampai ya’. Demikian juga
dengan taraf ilmu seseorang. Ada orang yang ilmunya cuma sampai ba’, ada
orang yang ilmunya sampai jim, ada orang yang ilmunya sampai dhot saja.
Nah, orang yang ilmunya seperti itu tidak paham kalau di omongi huruf
tha’, apalagi huruf hamzah dan ya’.
Dhawuh 32
Saya bukan
kiai, saya ini orang yang terpaksa siap dipanggil kiai. Saya juga bukan
ulama. Ulama dan kiai itu beda. Kiai dituntut untuk punya santri dan
pesantren. Ulama itu kata jamak yang artinya beberapa ilmuwan. Ketepatan
saja saya punya bapak yang bisa ngaji dan punya pesantren. Itu pun
tidak ada hubungannya dengan saya yang lebih banyak berkelana. Dari
berkelana itu lahirlah sema’an Al Qur’an. Jadi, hiburan “anak-anak” dan
saya datang bukan atas nama apa-apa. Hanya salah satu pengikut sama’an
Al Qur’an, yang bukan sami’in setia bukan pengikut yang aktif.
Dhawuh 33
Nanti, kalau suamimu berani menjadi kiai harus sanggup hidup melarat.
Dhawuh 34
Akhirnya
(maaf), kita menyadari bahwa kaum ulama, lebih-lebih seperti saya,
dituntut untuk menggali dana yang lebih baik, dana yang benar-benar
halal, kalau kita memang mendambakan ridho Allah.
Dhawuh 35
Di
era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu
teoretis. Semua kiai dan ulama sekarang ini dituntut mengerti bahwa
dirinya punya satu tugas dari Allah, yakni membawa misi manusiawi.
Dhawuh 36
Kalau ingin pondok pesantrennya besar, itu harus kaya terlebih dahulu. Nah, kaya inilah yang sulit.
Dhawuh 37
Pondok pesantren ini, walaupun kecil, mbok ya biarkan hidup, yang luar biar di luar, yang dalam biar di dalam.
Dhawuh 38
Saya
punya pertanyaan buat diri saya sendiri: mampukah saya mengatarkan
“anak-anak?” Sedang ulama saja banyak yang kurang mampu mengantarkan
anak-anak untuk saleh dan sukses. Suksenya diraih, salehnya meleset. Di
dalam pesantren sama sekali tidak diajarkan keterampilan. Timbul
pertanyaan: Bagaimana anak-anak kami nanti di masa mendatang, bisnisnya,
ekonominya, nafkahnya hariannya? Mungkinkah mereka berumah tangga
dengan kondisi seperti ini?.
Dhawuh 39
Mbah, manusia itu
kalau punya keinginan, hambatannya Cuma dua. Godaan dan hawa nafsu. Kuat
cobaan apa tidak, kuat dicoba apa tidak.
Dhawuh 40
Para
santri itu lemah pendidikan keterampilannya. Sudah terlanjur sejak
awalnya begitu. Tapi Alhamdulillah, di pesantren-pesantren seperti
Gontor dan pondok pabelan diajarkan keterampilan-keterampilan. Di sana,
keterampilannya ada, tapi wiridannya tidak ada. Saya senang pesantren
yang ada wiridannya.
Dhawuh 41
Sukses dalam studi belum
menjamin sukses dalam hidup. Pokoknya, di luar buku, di luar bangku, di
luar kampus, masih ada kampus yang lebih besar, yakni kampus Allah. Kita
harus banyak belajar. Antara lain belajar dangdut Jawa, belajar tolak
berhala, dan belajar tolak berhala itu sulit sekali! Sulit sekali.
Dhawuh 42
Hidup ini sejak lahir hingga mati, adalah kuliah tanpa bangku.
Dhawuh 43
Mbah,
kamu itu ketika mengaji, jika dipanggil ayah, ibu atau putra-putra
ayah, siapa saja itu, jangan menunggu selesai mengaji, langsung saja
ditaruh kitabnya, lalu menghadap dengan niat mengaji.
Dhawuh 44
Seorang (santri) yang tak kuat menahan lapar, bahayanya orang (santri) itu di pondok bisa berani banyak utang.
Dhawuh 45
Mbah,
kalau kamu menggantungkan kiriman dari rumah, kalau belum dikirim
jangan mengharap-harap dikirim, semua sudah diatur oleh Allah.
Dhawuh 46
Sekarang,
mencari orang bodah itu sulit, sebab orang bodoh kini mengaku pintar.
Kelak, kalau kamu sekolah, berlaku bodah saja. Bagaimana caranya?
Pura-pura saja, dan harus bisa pura-pura bodoh. Maksudnya, kamu harus
pintar membedakan antara orang bodoh dengan orang yang pura-pura bodoh.
Dhawuh 47
Dunia itu memang sedikit, tapi tanpa dunia, seseorang bisa mecicil (blingsatan).
Dhawuh 48
Jadi orang itu harus mencari yang halal, jangan sampai jadi tukang cukur merangkap jagal.
Dhawuh 49
Miskin
dunia sedikitnya berapa, tak ada batasannya demikian juga kaya dunia.
Seorang yang kaya pasti ada yang di atasnya, seorang yang melarat banyak
temannya. Orang kaya pasti ada kurangnya. Ini adalah ilmu Jawa, tidak
perlu muluk-muluk mengkaji kitab kuning.
Dhawuh 50
Kamu
memilih kaya-sengsara atau melarat-terlunta? Maksudnya, kaya-sengsara
itu adalah di dunia diganggu hartanya, sedang di akhirat banyak
pertanyaannya.
Dhawuh 51
Gus, tolong saya didoakan kaya.
“kaya buat apa?”, tanya Gus Miek. Buat membiayai anak saya. Royan, kamu
tak usah khawatir, saya berdoa kepada tuhan agar orang selalu baik dan
membantu kamu. Adapun orang yang berbuat buruk atau berniat buruk
kepadamu akan saya potong tangannya. Kelak, dirimu saya carikan tempat
yang lebih baik dari dunia ini.
Dhawuh 52
Royan, kamu ingin kaya ya? Kalau sudah kaya, nanti kamu repot lho.
Dhawuh 53
Orang kaya yang masuk surga itu syaratnya harus baik dengan tetangganya yang fakir.
Dhawuh 54
Seorang
fakir yang tahan uji, yang tetap bisa tertawa dan periang. Sedang
hatinya terus mensyukuri keadaan-keadaannya, masih lebih terhormat dan
lebih unggul melebihi siapa pun, termasuk orang dermawan yang 99% hak
milinya diberikan karena Allah, tetap saja masih unggul fakir yang saleh
tadi.
Dhawuh 55
Saat memimpin doa pada acara haul KH.
Djazuli Ustman, Gus Miek membaca Ayyuha ad-dunya thallaqtuka fa’anta
thaliqah.(Wahai dunia, aku telah menalak kamu, sungguh aku telah
mentalak kamu). Gus Miek lalu berhenti dan berkomentar:
Doa-doa
seperti ini janan sampai kalian ikut mengamini, belum mengamini saja
sudah senin kemis, apalagi mengamini, bertambah dalam (terperosok) lagi.
Dhawuh 56
Maaf,
kalau saya harus mengatakan: Anda sebaiknya punya keterampilan. Jangan
malu mengerjakan yang kecil, asal halal. Karena banyak sekali rekanan
saya yang malu, misalnya jualan kopi di ujung sana, di sektor informal.
Kok jualan kopi sih? Padahal saya mendambakan menjadi karyawan bank,
biar terdengar keren dengan gaji tinggi. Kok ini? Kata mereka. Padahal
ini halal menurut Allah dan sangat mulia. Sayang, mereka salah
menempatkan, menjaga gengsi di hadapan manusia. Nah, ini tidak
konsekuen, ini terlanjur salah kaprah. Kalau saya mengatakannya secara
salah, saya yang terjepit.
Dhawuh 57
Saya ini kan lain. Walau
income resmi enggak ada, tanah tak punya, tapi ada rekanan yang
lucu-lucu. Hingga rasa tasyakurlah yang lebih berkobar. Bukan rasa
kurang atau yang lain.
Dhawuh 58
Ada satu kios kecil yang isi
dengan kebutuhan kampung seperti lombok, beras dan gula, di tempat yang
sami’in tidak tahu. Kios itu saya percayakan pada seseorang. Terserah
dia! Dan, tidak harus untung. Mungkin dia sendiri harus belajar untuk
menerima kenyataan. Termasuk untuk tidak untung.
Dhawuh 59
Jadilah seburuk-buruk manusia di mata manusia tetapi luhur di mata Allah.
Dhawuh 60
Tidak apa-apa dianggap seperti PKI tetapi kelak masuk surga.
Dhawuh 61
Hidup itu yang penting satu, keteladanan.
Dhawuh 62
Kunci
sukses adalah bergaul, dan di dalam bergaul kita harus ramah terhadap
siapa saja. Sedang prinsipnya adalah bahwa pergaulan harus menjadikan
cita-cita dan idaman kita tercapai, jangan sebaliknya.
Dhawuh 63
Segala langkah, ucapan, dan perbuatan itu yang penting ikhlas, hatinya ditata yang benar, tidak pamrih apa-apa.
Dhawuh 64
Kalau
ada orang yang menggunjing aku, aku enggak usah kamu bela. Kalau masih
kuat, silakan dengarkan, tapi kalau sudah tidak kuat, menyingkirlah.
Dhawuh 65
Kalau
ada orang yang menjelek-jelekkan, temani saja, jangan menjelek-jelekkan
orang yang menjelek-jelekkan. Kalau memang senang mengikuti sunnah
nabi, ya jangan dijauhi mereka itu karena nabi itu rahmatan lil alamin.
Dhawuh 66
Kita
anggota sami’in Dzikrul Ghofilin khususnya, ayo ramah tamah secara
lahir dan batin dengan orang lain, dengan sesame, kita sama-sama
manusia, walaupun berbeda wirid dan aliran. Kita harus mendukung kanan
dan kiri yang sudah terlanjur mantab dalam Naqsabandiyah, Qodiriyah,
atau ustadz-ustadz Tarekat Mu’tabarah. Jangan sampai terpancing untuk
tidak suka, tidak menghormati pada salah satu wirid yang jelas muktabar
dengan pedoman-pedoman yang sudah terang, khusus dan tegas
Dhawuh 67
Tadi
ada orang bertanya: Gus, saya ini di kampung bersama orang banyak.
Jawab saya: Yang penting ingat pada Allah, tidak merasa lebih suci dari
yang lain, tidak sempat melirik maksiat orang lain, dengan siapa saja
mempunyai hati yang baik, itulah ciri khas pengamal Dzikrul Ghofilin.
Dhawuh 68
Era sekarang, orang yang selamat itu adalah orang yang apa adanya, lugu dan menyisihkan diri.
Dhawuh 69
“Miftah,
kamu masih tetap suka bertarung pencak silat?” Tanya Gus Miek. Lha
bagaimana Gus, saya ikut, jawab Miftah. “Kalau kamu masih suka
(bertarung) pencak, jangan mengharap baunya surga.”
Dhawuh 70
Saya
lebih tertarik pada salah seorang ulama terdahulu, contohnya Ahmad bin
Hambal. Kalau masuk tempat hiburan yang diharamkan Islam, dia justru
berdoa: “Ya Allah, seperti halnya Kau buat orang-orang ini berpesta pora
di tempat seperti ini, semoga berpesta poralah mereka di akhirat nanti.
Seperti halnya orang-orang di sini bahagia, semoga berbahagia pula
mereka di akhirat nanti.” Ini kan doa yang mahal sekali dan sangat
halus. Tampak bahwa Ahmad bin Hambal tidak suka model unjuk rasa,
demonstrasi anti ini anti itu. Apalagi seperti saya yang seorang
musafir, saya dituntut untuk lebih menguasai bahasa kata, bahasa gaul,
dan bahasa hati.
Dhawuh 71
Seorang yang diolok-olok atau
dicela orang lain, apa itu termasuk sabar? Badanya sakit, anaknya juga
sakit, istrinya meninggal, apa itu juga termasuk sabar? Hartanya hancur,
istrinya mati, anaknya juga mati, apa itu termasuk orang yang sudah
sabar? Seperti itu tidak bisa disebut sebagai orang sabar, entah sabar
itu bagaimana, aku sendiri tidak mengerti.
Dhawuh 72
Tadi,
ada orang yang bertanya: periuk terguling, anak-istri rewel, hati
sumpek, pikiran ruwet, apa perlu pikulan ini (tanggung jawab keluarga)
saya lepaskan untuk mencari sungai yang dalam (buat bunuh diri). Saya
jawab: Jangan kecil hati, siapa ingin berbincng-bincang dengan Allah,
bacalah Al Qur’an.
Dhawuh 73
Tadi ada yang bertanya: Gus,
bagaimana ya, ibadah saya sudah bagus, shalat saya juga bagus, tetapi
musibah kok datang dan pergi? Saya jawab: mungkin masih banyak dosanya,
mungkin juga bakal diangkat derajat akhiratnya oleh Allah; janganlah
berkecil hati.
Dhawuh 74
Orang-orang membacakan Al-Fatehah
untukku, katanya aku ini sakit. Aku ini tidak sakit, hanya fisikku saja
yang tidak kuat karena aktivitasku ini hanya dari mobil ke mobil, dan
tidak pernah libur.
Dhawuh 75
Ada empat macam perempuan yan
diidam-idamkan semua orang (lelaki). Perempuan yang kaya, perempuan
bangsawan, dan perempuan yang cantik. Tapi ada satu kelebihan yan tidak
dimiliki oleh ketiga perempuan itu, yaitu perempuan yang berbudi.
Dhawuh 76
Anaknya
orang biasa itu ada yang baik dan ada yang jelek. Demikian juga anaknya
kiai, ada yang baik dan ada yang jelek. Jangankan anaknya orang biasa
atau anaknya kiai, anaknya nabi pun ada yang berisi dan ada yang kosong.
Kalau sudah begini, yang paling baik bagi kita adalah berdoa.
Dhawuh 77
Di
tengah-tengah sulitnya kita mengarahkan istri, menata rumah tangga, dan
sulitnya menciptakan sesuatu yang indah, sedang tanda-tanda musibah pun
tampak di depan mata, semua itu menuntut kita menyusun ketahanan
batiniah, berusaha bagaimana agar Allah sayang dan perhatian kepada kita
semua.
Dhawuh 78
Tadi, ada orang yang bertanya: anak saya
nakal, ditekan justru menjadi-jadi, bagaimana Gus? Nasehat orang tua
terhadap anaknya janganlah menggunakan bahasa militer, pakailah bahasa
kata, bahasa gaul, dan bahasa hati.
Dhawuh 79
Gus, kenapa
Anda menamakan anak Anda dengan bahasa Arab dan non Arab? Begini, alas
an saya menamakan dengan dua bahasa itu karena mbahnya dua; mbahnya di
sini santri, mbahnya di sana bukan. Mbahnya di sini biar memanggil Tajud
karena santri, mbahnya di sana yang bukan santri biar memanggil
Herucokro; mbanya di sini biar memanggil sabuth, mbahnya di sana biar
memanggil panotoprojo.
Dhawuh 80
Menurut Anda, bagaimana
sebaik-baiknya busana muslim itu? Jilbab kan banyak dipertentangkan
akhir-akhir ini? Pada akhirnya, seperti penggabungan Indonesia,
Siangapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina menjadi ASEAN,
tidak menutup kemungkinan, ada bahasa dan busana ASEAN. Sehingga siapa
pun dengan terpaksa untuk ikut dan patuh. Ya, kita sebagai orang tua
harus diam kalau itu nanti terjadi, dan kalau ingin selamat, ya mulai
sekarang kita harus berbenah.
Dhawuh 81
Saya kira-kira
dituntut untuk lebih menggalakkan ibadatul qalbi (ibadah dalam hati).
Mungkin begitu. Sebetulnya putrid rekan-rekan ulama juga sudah banya
yang terbawa arus; ya sebagian ada yang masih mengikuti aturan, tetap
berjilbab, misalnya. Tetapi ada juga yang tetap berjilbab karena sungkan
lantaran orang tuanya mubaligh. Secara umum, sudah banyak yang terbawa
arus.
Dhawuh 82
Dunia ini semakin lama semakin gelap, banyak
hamba Allah yang bingung, dan sebagian sudah gila. Sahabat Muazd bin
Jabbal berkata: “siapa yang ingat Allah di tengah-tengah dunia yang
ramainya seperti pasar ini, dia sama dengan menyinari alam ini.”
Dhawuh 83
Memiliki lidah atau mulut itu jangan dibirkan saja, lebih baik dibuat zikir pada Allah, dilanggengkan membaca lafal Allah.
Dhawuh 84
Hadirin
tadi ada orang yang bertanya: Gus, pendengar Al Qur’an ini kalau usai
shalat fardhu, yang terbaik membaca apa ya? Saya jawab: Untuk wiridan,
kecuali kalian yang sudah mengikuti sebagian tarekat mu’tabarah, baik
membaca Al Fatehah 100 kali. Ini juga menjadi simbolnya Dzikrul
Ghofilin. Resepnya, mengikuti imam Abu Hamid Al Ghazali, yang juga
diijasahnya oleh adiknya, Syaikh Ahmad Al Ghazali.
Dhawuh 85
Trimah,
kamu pasti mau bertanya: Kiai, wiridannya apa, mau bertanya begitu kan?
Tidak sulit-sulit, baca shalawat sekali, pahalanya 10 kali lipat;
jangan repot-repot, baca shallallah ‘ala Muhammad, itu saja, yang
penting benar.
Dhawuh 86
Saya punya penyakit yang orang lain
tidak tahu. Saya ini terus terang tamak, takabur yang terselubung, dan
diam-diam ingin kaya. Padahal saya punya persoalan khusu dengan Allah.
Artinya, saya adalah hamba yang diceramahkan, sedang Allah yang sudah
saya yakini adalah sutradara.
Dhawuh 87
Persoalan mengenai
hakikat hidup di dunia masih sering kita anggap remeh. Olih karena itu,
sangat perlu dilakukan sebentuk muhasabah. Sejauh mana tauhid kita,
misalnya. Dan, ternyata kita belum apa-apa. Kita belum menjadi mukmin
dan muslim yang kuat.
Dhawuh 88
Taqarrub (pendekatan) kita
kepada Allah seharusnya menjadi obat penawar bagi kita. Apa pun yang
terjadi, apa pun yang diberikan Allah, syukuri saja. Sayang, terkadang
kita belum bisa menciptakan keadaan yang demikian. Kita seharusnya
bangga menjadi orang yang fakir. Sebab sebagian penghuni surga itu
adalah orang –orang fakir yang baik.
Dhawuh 89
Dahulu, pada
usia sekitar 10 tahun, saya sering didekati orang,dikira saya itu siapa.
Ungkapan orang yang datang kepada saya itu-itu saja: minta restu atau
mengungkapkan kekurangan, terutama yang berhubungan dengan materi.
Perempuan yang mau melahirkan juga datang. Dikira saya ini bidan. Karena
makin banyak orang berdatangan, lalu saya menyimpulkan: jangan-jangan
saya ini senang dihormati orang, jangan-jangan saya ini dianggap dukun
tiban juru penolong atau orang sakti.
Dhawuh 90
Surga itu miliknya orang-orang yang sembahyang tepat pada waktunya.
Dhawuh 91
Shalat itu, yang paling baik, di tengah-tengah Al-Fatehah harus jernih pikiran dan hati.
Dhawuh 92
Shalat itu, yang paling baik adalah berpikir di tengah-tengah membaca Al-Fatehah.
Dhawuh 93
Coro
pethek bodon. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik satu
itu rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik dua itu
rugi. Di akhirat, bila berbuat buruk satu, berbuat baik tiga itu baru
untung.
Dhawuh 94
Kalau kamu ingin meningkat satu strip,
barang yang kamu sayangi ketika diminta orang, berikan saja. Itu naik 1
strip, lebih-lebih sebelum diminta, tentu akan naik 1 strip lagi.
Dhawuh 95
Seorang yang berani melakukan dosa, harus berani pula bertobat.
Dhawuh 96
Kalau
kamu mengerjakan kebaikan, sebaiknya kau simpan rapat-rapat; kalau
melakukan keburukan, terserah kamu saja: mau kau simpan atau kau
siarkan.
Dhawuh 97
Kowe arep nandi Sir? Tanya Gus Miek. Badhe
tumut ujian, jawab Siroj. Kapan? tanya Gus miek . sak niki, jawab
Siroj. Golek opo?, Tanya Gus Miek lagi. “Ijasah,” jawab Siroj juga. Lho
kowe ntukmu melu ujian ki mung golek ijasah, e mbok sepuluh tak gaekne.
Yoh, dolan melu aku.
Artinya:
Kalau kamu ikut ujian hanya untuk ijasah, sini, mau 10 saya buatkan, ayo ikut saya.
Dhawuh 98
“Kamu
mau kemana sir?” Mau ngaji. “Biar dapat apa?” Biar masuk surga. “jadi,
alasan kamu mengaji itu hanya untuk mencari surga? Jadi, surga bisa kamu
peroleh dengan mengaji? Kalau begitu, sudah kitabmu ditaruh saja, ayo
ikut bersama saya ke Malang.
Dhawuh 99
Saya katakana kepada
anak-anak, Dzikrul Ghofilin jangan sampai diiklankan atau dipromosikan
sebagai senjata pengatrol kesuksesan duniawi.
Dhawuh 100
Saya imbau, jangan sampai ada yang berjaga lailatul Qodar, itu ibarat memikat burung perkutut.
Dhawuh 101
Belum
tahun 2000 saja sudah begini; bagaimana kelak di atas tahun 2000? Dunia
ini semakin lama semakin panas, semakin lama semakin panas, semakin
lama semakin panas.
Dhawuh 102
Saya senang orang-orang
Nganjuk karena orangnya kecil-kecil. Ini sesuai sabda nabi: “Orang itu
yang baik berat badannya 50.” Juga, ada sabda lain yang menguatkan :
“Orang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling
sedikit makannya.” Ini sesuai firman Allah: Yang telah memberi makanan
kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar dan mengamankan mereka dari
rasa takut (QS. Quraiys: 4).
Lapar adalah syarat untuk menghasilkan tujuan. Maka, siapa tidak senang lapar, ia bukan bagian dari ahli khalwat (menyendiri).
Dhawuh 103
Miftah, kalau kamu nanti sudah pulang dari mondok, jangan suka menjadi orang terdepan.
Dhawuh 104
Biarkan
dunia ini maju. Akan tetapi, bagi kita umat Islam, akan lebih baik
kalau kemajuan di bidang lahiriah dan umumiyah ini dibarengi dengan
iman, ubudiyah, serta sejumlah keterampilan positif. Jadi, memasuki era
globalisasi menuntut kita untuk lebih meyakini bahwa shalat lima waktu
itu, misalnya, adalah senam atau olah raga yang paling baik.
Setidak-tidaknya, bagi orang Jawa bangun pagi itu tentu baik. Apalagi
kita yang mukmin. Dengan bangun pagi dan menyakini bahwa kegiatan shalat
Subuh adalah senam olah raga yang paling baik, otomatis kita tersentuh
untuk bergegas selakukan itu.
Dhawuh 105
Sir, kalau kamu mau bertemu aku, bacalah Al-Fatehah 100 kali.
Dhawuh 106
Kalau mau mencari aku, di mana dan kapan saja, silakan baca surah Al-Fatehah.
Dhawuh 107
Mbah, kalau kamu mau bertemu aku, sedang kamu masih repot, kirimi saja aku Al-Fatehah, 41kali.
Dhawuh 108
Mencari aku itu sulit; kalau mau bertemu dengan aku, akrablah dengan keluargaku, itu sama saja dengan bertemu aku.
gus
miek KH.HAMIM DJAZULI (GUS MIEK KYAI NYELENEH) KH Hamim Tohari Djazuli
atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau
adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat
pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh
Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan
memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama,
khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang
agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau
akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama
yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat
kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun,
Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial
(hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek
mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid
Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada
ritual ”dzikrul ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan
spritual Gus Miek inilah, telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin
(sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para
wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.Hal terpenting lain untuk
diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam
praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak
didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan
orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat. ayah gus mik KH.Achmad
djazuli Usman KH.ACHMAD DJAZULI USMAN Gus Miek seorang hafizh
(penghapal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat
mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang
lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan
ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan ,beliaupun
membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin. gus miek selain
dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang
nyeleneh beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan
maksiat seperti discotiq ,club malam dibandingkan dengan menjadi seorang
kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning.
hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di jawa timur keluar
masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di
pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka
yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah
suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan
pintas. Pernah di ceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan
disana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman
keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras
lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek salah satu dari mereka mengenali
Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek.” Gus kenapa sampeyan ikut Minum
bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh
Agama ? lalu Gus Miek Menjawab “aku tidak meminumnya …..!! aku hanya
membuang minuman itu kelaut…!hal ini membuat mereka bertanya-tanya,
padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut.
Diliputi rasa keanehan ,Gus miek angkat bicara “sampeyan semua ga
percaya kalo aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..? lalu Gus
Miek Membuka lebar Mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam
Mulut Gus miek terlihat Laut yang bergelombang dan ternyata benar
minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan Saat itu juga mereka diberi
Hidayah Oleh Alloh SWt untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman
keras yang dilarang oleh agama. Itulah salah salah satu Karomah
kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek. jika sedang jalan-jalan
atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos
oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran
lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa
depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak. Ketika beliau
berda’wak di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas.Niac
adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi
maupun keturunan ,Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu
memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami
kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga
perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan Satu contoh lagi ketika
Gus miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam
Gus miek masuk kedalam club yang di penuhi dengan perempuan-perempuan
nakal, lalu gus miek langsung menuju watries (pelayan minuman) beliau
menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di
wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus di kejar oleh Gus miek
sambil tetap meniupkan asap rokok diwajah perempuan tersebut. Perempuan
tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan,
setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam
itu. Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang sering
menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di
hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita ? “Aku
setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan
mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk
syahwat tidak ada”jawab Gus miek. Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan
tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan
maupun saat bertemu dengan tamu…”Apabila aku bertemu orang dijalan atau
tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati.
Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku
menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa
aku sedang menagis “jawab Gus miek Adanya sistem Da’wak yang dilakukan
Gus miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat
bagi mereka yang Alim pun Sekaliber KH.Abdul Hamid (pasuruan) mengaku
tidak sanggup melakukan da’wak seperti yang dilakukan oleh Gus Miek
padahal Kh.Abdul Hamid juga seorang waliyalloh. Tepat tanggal 5 juni
1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi
mulya Surabaya (sekarang siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya
meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu
dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan.
By Moh.A.Hatta,S.Pi.,MM








No comments:
Post a Comment